Mengapa Ular Sampai Hati Menggigit Abu Bakar Saat Menemani Rasulullah ?

Di gua Tsur, Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersembunyi dari kejaran sejumlah orang-orang pilihan dari seluruh kabilah-kabilah Qu...

Di gua Tsur, Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersembunyi dari kejaran sejumlah orang-orang pilihan dari seluruh kabilah-kabilah Qurasy dengan pedang terhunus siap mengeksekusi beliau. Di gua yang sempit dan hanya cukup ditempati dengan posisi duduk ini, Abu Bakar dengan setia, ikhlas dan penuh kecintaan menemani Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. Dialah sahabat yang paling mulia diantara sahabat-sahabat yang lain, pemegang amanah utama tampuk pemerintahan Islam setelah Rasulullah shallallahu alayhi wasallam wafat, dan ia wafat syahid karena memendam cinta dan rindu kepada Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. 

Gua Tsur adalah gua yang didalamnya banyak dihuni binatang-binatang liar dan buas, dan seringkali ditempati ular-ular berbisa. Sebelum Rasulullah memasuki gua, Abu bakar masuk terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan di dalamnya, membersihkan batu-batu dan menyingkirkan binatang-binatang yang dianggap berbahaya. Lalu segera mempersilahkan Rasulullah masuk. 

Layaknya manusia, Abuh Bakar merasa takut dan khawatir akan keselamatan Rasulullah, lebih-lebih ketika ia melihat lalu lalang pemuda-pemuda Quraisy yang mengejarnya. Kekhawatiran itu tidak dapat ia sembunyikan dari wajahnya yang mulia, hingga terlihat oleh Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. Untuk menenangkan Abu Bakar, Rasulullah bersabda :

لا تحزن إن الله معنا

"Jangan kau berduka, sesungguhnya Allah bersama kita".

Kejadian ini terekam dalam al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 40.

Akibat perjalan yang melelahkan, Rasulullah merasa payah dan tertidur di pangkuan Abu Bakar. Saat Rasulullah shallallahu alayhi wasallam tertidur, ia melihat sebuah lubang tepat di samping ia duduk. Tampaknya adalah lubang liang ular. Demi kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alayhi wasallam, ia tutup lobang tersebut dengan tangannya, agar ular tidak mengganggu istirahat Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. Sesaat kemudian tangannya terasa sakit. Rupa ular penghuni lobang hendak keluar.

Meskipun sakit, tangannya tetap ia tahan dan berusaha tidak bergerak, khawatir mengganggu ketenangan istirahat Rasulullah shallallahu alayhi wasallam, hingga tanpa terasa air matanya menetes jatuh ke pipi Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. Rasulullahpun terbangun dan berkata: "Mengapa engkau menangis?".

Abu Bakar menjawab : "Karena gigitan ular".

Rasulullah meraih tangan Abu Bakar lalu mengusapnya hingga luka dan sakit Abu Bakar hilang.

Adakah kita mempersalahkan si Ular yang hendak keluar? Mengapa ia sampai hati menggigit tangan Abu Bakar yang sedang melindungi Utusan Allah untuk semua makhluk termasuk ular ini?

Saat Rasulullah shallallahu alayhi wasallam masuk ke dalam gua, seisi gua menjadi terang karena nur beliau. Ular yang ada di dalam liangnya itupun melihat itu, cahaya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia mengerti manusia yang masuk ke dalam gua adalah Muhammad, utusan Allah  yang menjadi rahmat  bagi seluruh isi alam. Terbesit rasa rindu dalam "hati" si ular hingga ia berusaha keluar untuk melihat langsung kekasih Allah yang mulia itu. Namun Abu Bakar menghalang-halanginya, hingga  ia pun terpaksa menggigit tangan Abu Bakar, walaupun ia tahu bahwa Abu Bakar adalah orang yang melindungi Sang Pujaan hatinya. Ia rindu, serindu-rindunya kepada Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.

Tak ada yang patut disalahkan......wallahu a'lam

Related

Sirah Nabawiyah 2381515379148062274

Posting Komentar

Follow Us

Facebook

TERBARU

Arsip

Statistik Blog

item